Kualitas Batin Kita Menentukan Umur Panjang

Suhu Bhadra Ruci

Jika kualitas internal batin kita masih berantakan, kemarahannya banyak, kebenciannya banyak, egonya gede, kemelekatan sama duniawi, barang-barang banyak, angin duniawinya kenceng, seneng. Gini, kalo logikanya terlalu sulit kita pahami, Saya bahas hal secara individu aja. Jika Saya, satu manusia ini kualitas batinnya enggak bagus, kemelekatannya masih banyak, pikirannya masih kacau, tidak fokus, lalu pemikirannya setiap harinya swing, terus galau. Yang paling kita tuh kemelekatan kita terhadap barang-barang duniawi dan kemelekatan kita terhadap feeling-feeling itu menjadi kuat, itu kan Saya secara otomatis makin jauh dari Dharma. Ya, kan? Logikanya kan seperti itu. 

Kalau kualitas seperti itu yang Saya miliki artinya Saya makin jauh dari Dharma, ya kan? Kalau Saya, orang-orang seperti Saya ini begitu banyak di komunitas KCI, maka komunitas KCI ini tidak ada bedanya dengan kelompok adalah manusia-manusia, makhluk pada umumnya yang jauh dari Dharma. Kalau gitu, otomatis Sang Guru, otomatis kita makin jauh dari Guru. Logikanya paham enggak? Kita makin jauh dari Dharma kan kita makin jauh dari Guru, paham? Kalau gitu, meskipun Gurunya ada, berarti Dia toh tidak akan berpanjang umur. Paham? Mengerti kan? Jadi, yang paling penting… Makanya, oleh karena itu begitu besar komponen syarat yang dibutuhkan, energi yang begitu besar, hal-hal positif yang sangat amat banyak dibutuhkan sehingga hadirnya Guru yang berumur panjang. 

Jadi kalau kita mau Guru berumur panjang, balik lagi, kualitas diri kita harus ningkat, batin kita harus ningkat, baru kita punya karma, punya karma, saya baru punya karma, punya sebab Guru saya tidak pergi dari aku. Kan begitu kan ceritanya? Ya kan? Kalau saya tidak punya karma, Guru saya pergi dari aku. Ya ga? Nah, apa karma saya sehingga Guru saya tidak pergi dari saya? Ya, tanyalah pada diri saya sendiri. Orientasi hidup saya itu apa? 

Ah, ini penting. Ini ga boleh diedit. Tanya pada diri saya, pada kita masing-masing, Apa orientasi hidup saya? Apakah makan, tidur, berak, kencing? Apakah nyari uang, reputasi, kerja? Apa namanya? Diakui keberadaan kita, status kita? Kerja, status? Kerja saya dihargai? Apa orientasi saya? Oh, saya punya sesuatu kehendak di batin saya. Apa itu? Ya, saya masih membutuhkan seseorang yang saya, masih apa namanya, masih… 

Batin itu kan… terutama milenial. Batin kita itu kan banyak bolongnya itu. Batin kita banyak bolongnya, banyak-banyak hal. Bolong. Hole. Bolong. Apa barang bolong itu? Ga puas ini, ga puas itu. Pingin ini, pingin itu. Luka batin ini, luka batin itu. Kalau orientasi kita masih mengejar itu, memenuhi itu, dan tidak benar-benar paham, inilah yang harus segera saya obati di batin saya, maka hidup kita menjadi kebanyakan orang dan percuma. Sehingga percuma. Kita menjadi jauh dari Dharma. Menjadi jauh dari Dharma, ya, berarti otomatis Guru umur pendek. Kan, logikanya begitu. Jadi upacara umur panjang ini menyangkut.. bukan menyangkut para Acharya yang bakar-bakar di situ.

Ini yang paling penting, kualitas batin semua orang yang dibutuhkan menyadari, you butuh ga Sang Guru? Kalau you butuh Sang Guru, berarti kamu harus mempersiapkan dirimu untuk menerima Sang Guru. Apa kualitas batinmu? Temanmu datang, terus kamu cemburu. Temanmu datang, terus kamu jealous. Terus kamu tantrum teriak-teriak kegilaan. Apa-apaan itu? Itu jauh.. jauh sekali. Jauh. You  are not suitable vase. 

Rosemary ribut sama saya. Itu dia sering Whatsapp saya, ribut saya, “Kamu harus gini, harus gini, harus gini.” Yaudah iya, iya, iya. Saya mengerti. “Kamu harus gini supaya Rinpoche umur panjang.” Waktu Rinpoche sakit, “Kamu harus gini, kamu harus segera ini, kamu harus ini.” Jadi, dia tidak menyuruh Saya untuk melakukan ritual, ya dia memaksa Saya untuk melakukan sesuatu sehingga Rinpoche itu lihat Saya tidak sia-sia mengajar, Saya ga sia-sia ngajar. Okelah jika Saya ga sia-sia ngajar, itu berarti jika Saya ngajar itu ada hasilnya yang bisa Saya lihat. Dia seneng sehingga Dia bersedia memperpanjang. Kalau Dia lihat, “Apa ini Saya ngajar bertahun-tahun.” Coba kita lihat, Rinpoche kan mengajar bertahun-tahun di Indo kan ya dua… tiga puluh tahun Rinpoche mengajar di Indo. 20 tahun tahun depan 20 tahun Rinpoche mengajar ke KCI, di Indo 31 tahun. Di Indo 31 tahun, di KCI 20 tahun, tahun depan. Selisih 11 tahun. Kalo Saya jadi Rinpoche, Saya ngajar, tiap tahun datang, umur 85, umur 89 datang ngajar ke Indo, terbang dari Eropa, jauh, lalu cape-cape itu, terus lihat ada hasil enggak? Enggak ada hasil? Kalo gitu ga ada hasil sekian tahun, ya buat apa lagi Saya? Mati ya sudahlah. Logikannya kan begitu. 

Kalau misalnya ada hasil, orangnya sudah memasuki tingkat penolakan samsara. Lalu, mulai menapaki serius, mulai menapaki serius, bukan hanya sebut-sebut, ucap-ucap, baca-baca saja. Mulai menapaki serius Bodhicitta, mulai menapaki serius marga persiapan, penglihatan, maka si Guru itu lihat. “Oh ya, Saya ga sia-sia, cape-cape, jauh-jauh datang. Oke, kalo gitu dia sebentar lagi bunganya berbuah. Jadi, Saya ga boleh pergi. Saya tungguin sehingga ini buahnya jadi.” Kan logikanya begitu kan ya? 

So, balik lagi, mau Guru umur panjang atau tidak kembali pada kualitas batin kita. Apa yang kita pikir? Apa orientasi hidupmu sampai ini hari? Apa tujuan hidupmu? Ya, tanya aja apa tujuan hidupmu? Makan, tidur, berak, kencing? Kawin, beranak, atau apa? Tanya orientasi hidupmu. Apa kamu bener-bener serius mengubah, memperbaiki kualitas batinmu? Menapaki jalan itu? Nah, kalo serius, inilah yang menjadi energi yang dibakar oleh Saya. 

Tadi, itu kan Saya berhenti, api berhenti pada saat Yidam. Kalo pada saat Dewi Api masih mending. Ini pada saat Yidam. Halangan muncul kan? Ga nyala kan? Berarti apa? Hari terakhir lagi. Itu besar tuh. Perkara besar hari ini. Penutupan. Berarti halangan besar itu muncul. Oke, ada halangan. Apa halangannya? Oh, masalah internal semua manusia. Masalah internal… Ya, kalo masalah internal, batin kita, tidak kita koreksi dengan serius. Kualitas kita, tujuan kita, orientasi kita. Masih mata duitan ga? Gini lah, paling gampang, gini. 

Tanya batin kita, apakah di batin kita, di salah satu pojok batin kita, masih ada pemikiran Saya sangat tertarik dan tidak ingin pergi, tidak ingin melepas dari dunia ini? Dunia ini ya termasuk rumahmu, anjingmu, pacarmu, ikanmu, rumahmu, biaramu, pohonmu, WCmu, tahimu, burungmu, segala macam. Berarti itu, kalo kita menemukan batin seperti itu artinya itu jadi mengikat kamu pada samsara. You tak bisa lepas. Kalo gitu ga usah bahas, “Oh saya ingin bekerja bagi semua makhluk.” Ah, itu ga usah dibahas. 

Pertanyaan terakhir, apakah kita serius? Orang-orang di sini, apakah kita serius? Serius means serius, serius ya serius. Apakah saya serius? Apa artinya serius? Dalam hidup saya ini serius, ini perkara serius. Misalnya, kamu ujian, besok ujian, mau lulus kuliah. Berarti kan kamu serius itu, setiap hari belajar, nyicil sehingga kamu lulus ujian. Apakah kita serius? Memandang ini perkara yang serius? Bahwa saya ini serius menapaki jalan spiritual, ini serius apa tidak? Kalau pikir, “Ah, saya hanya kerja di sini, tidak serius.” Sore belajar, ada prolam, terus udah. Abis itu, ya sudah. Orientasi saya hanya makan, tidur, berak, kencing, males. Males saya dipiara, itu kan kita suka memelihara males itu. Ya, berarti pelajaran ini tidak serius. Upaya Sang Guru itu tidak ada hasilnya. 

Apa yang membuat itu menjadi ingin tinggal lebih lama di samsara itu? Gini, tinggal di samsara itu tidak menyenangkan bagi dia. Jadi, ini poin yang paling penting ketika longlife. Apa yang bisa mendesak Sang Guru agar dia mengubah pikirannya untuk tinggal lebih lama? Saya selalu tanya. Suatu hari, Saya pernah tanya, berbicara, pamitan gitu, “Rinpoche, tinggallah lebih lama.” “Yes, yes, yes, I try, I try” Serious to try, we can see, serious is he to try. Apa? Olahraga rutin, makan rutin, minum rutin. 

Jadi, suatu hari, Saya ditanyain, dimarahin sama Rinpoche, “Lobsang Oser, kamu itu pagi kayak sering enggak sarapan ya?” “Ya, dari zaman sekolah.” “Enggak boleh, pagi, lu secape apapun, kamu harus makan, kalo ga besok tua, kamu sengsara kamu. Kamu ga lihat Saya? Saya makan rutin, malam tidur, sebelum tidur, 2 gelas air tuh rutin.” 

Ngerti ga maksud Saya? I want to say, I want to tell you that sesuatu upaya menjaga tubuh ini senantiasa sehat dan berumur panjang itu perkara serius yang dijalanin. Paham kan? Nah, itu bisa merefleksi pada kita. Apakah kita adalah orang yang serius menjaga tubuh kita, tubuh jasmani kita menjadi senantiasa sehat? Tidak. Ya kan? Tidak. Ya, lihat. Tidur bergadang, makan indomie, ndak jelas entah apa, jajan tak jelas apa. Itu perkara fisik. 

Jadi, hal sepele yang saya tanyakan, saya bilang ke Rinpoche, “Please longlife, stay agak lama bagi kita. Kita belum mencapai apa-apa, tolong, tungguin, tapi kita serius.” “Yes, yes, yes. Don’t worry, I try. I’m trying to life long.” Umur segini masih sehat, masih jalan, masih olahraga. Itu kan artinya satu orang ini serius menjaga jasmaninya. Kalau jasmaninya serius itu kan, dia tidak sakit kan, ya? 

Coba lihat aja bapakmu, akongmu umur berapa? Kakekmu umur berapa? Makan sembarangan, jajan sembarangan, tidur sembarangan. Apakah orangtua kita yang kalau mau dibilang orangtua itu, apakah ada satu pemikiran serius menjaga umurnya, menjaga fisiknya? Enggak. Kamu aja enggak. 

Nangkep enggak? So, Rinpoche trying untuk hidupnya panjang dengan jasmani yang sehat maka umurnya panjang. Maka, si murid harus tahu diri juga. Si murid ini harus tahu diri juga. Apa yang kita lakukan? Apakah perkara hidupmu itu serius? Saya tidak melihat anak-anak ini serius dalam hal, misalnya ada beberapa orang yang pake jubah, nih. Itu kan tentu orangnya serius dalam menapaki jalan spiritual. Tapi, perilakunya tidak serius, kok. Tak serius. Gimana serius? Wong hari ini gimana, besok  gimana.  Dia ini kayak jalanin aja. Jalanin aja. Hari ini gimana, besok gimana, lusa gimana, yaudah jalanin aja. Itu tidak serius. 

Serius itu  ketika kamu pernah mau ujian. Contoh nih serius waktu kamu mau ujian, kelulusan SD, SMP, SMA itu, belajaaaaarrrr sekian hari. Itu kan potongan momen itu kan serius, itu ya? Nah, apakah kamu serius dalam sehari-harimu? Enggak. Bagaimana Guru bisa umur panjang? Tidak ada effort yang diperlihatkan, dipersembahkan, yang ditawarkan sehingga yang ditanamkan sebagai sebab. It’s no point. Jadi, Saya hanya berupaya melakukan terbaik yang bisa Saya lakukan.

Sumber:

Tagline:

bakti, umur panjang guru, realisasi dharma, praktik dharma

Share: